Pengemis, pengamen, dan pengangguran dikaitkan dengan perekonomian
1. Pengemis
Pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta
di muka umum dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan
dari orang lain. Di masa lalu, menjadi pengemis merupakan suatu keterpaksaan,
saat ini merupakan suatu pilihan yang dilakukan dengan sukarela. Daya tarik
yang mengundang banyak orang ini pada akhirnya menimbulkan persaingan di antara
sesama pengemis. Salah satu dampak dari persaingan adalah timbulnya koordinator
lapangan, yang mengatur jumlah pengemis di setiap titik sekaligus mencari
titik-titik yang berpotensi untuk menghasilkan pendapatan. Selain itu,
pengemispun juga harus menggunakan berbagai strategi untuk menarik perhatian
dan mendorong orang untuk memberikan uang kepada mereka. Jika di masa lalu,
penampilan umum pengemis adalah dengan baju yang kumuh, wajah yang kotor dan
memelas, serta perilaku yang menunjukkan kecacatannya, maka sekarang ini
berbagai strategi mereka lakukan, seperti:
1. Berdiri di tengah terik matahari dengan cucuran keringat.
2. Menunjukkan bukti bahwa mereka cacat, misalnya dengan tidak menggunakan baju
atau menggulung celananya. Saya pernah melihat seorang pengemis berbadan tegap
bertelanjang dada untuk menunjukkan bahwa dia kehilangan satu tangan, suatu
gabungan antara cacat dengan badan yang sehat. Strategi ini dilakukan karena
banyak pengemis yang berpura-pura cacat, misalnya dengan menyembunyikan tangan
atau kakinya dibalik pakaiannya.
3. Duduk atau menggeletak di tengah jalan, di antara mobil-mobil, sehingga menimbulkan
lebih banyak perhatian bagi pengemudi agar tidak menabrak mereka dan lebih
memudahkan pengendara memberikan uang.
4. Menggendong anak kecil atau langsung menggunakan anak kecil untuk mengemis.
Penggunaan anak kecil biasanya lebih efektif dalam memancing perhatian dan
belas kasihan, karena itu semakin banyak pengemis yang menggunakan anak dalam
bekerja. Dengan semakin banyaknya pengemis menggunakan strategi ini, maka
berkuranglah efektivitasnya. Lalu mereka bersaing dengan menggunakan anak yang
semakin kecil ataupun bayi. Seorang kompasioner pernah bercerita bertemu dengan
pengemis yang membawa bayinya yang masih berumur beberapa minggu.
5. Membawa formulir sumbangan entah dari mesjid atau panti asuhan mana karena
surat permohonan yang terbungkus plastik sudah kotor untuk dibaca. Saya pernah
bertemu dengan beberapa orang anak yang menyerbu saya, masing-masing membawa
lembar dari mesjid/panti asuhan yang berbeda. Strategi ini cocok untuk menarik
perhatian dan uang dari orang yang enggan memberi uang untuk pengemis tapi
senang untuk menyumbang mesjid/panti asuhan. Model permintaan sumbangan ini
bukan gagasan orisinil dari pengemis. Mereka mungkin belajar dari permintaan
sumbangan yayasan sosial yang didirikan pejabat tinggi negara ataupun
permintaan sumbangan dari pensiunan pegawai tertentu, yang juga banyak
menghadapi permasalahan akuntabilitas, tercampur untuk kebutuhan pribadi (atau
lembaga) dan kebutuhan sosial.
6. Membawa kardus-kardus sebagai tempat memasukkan sumbangan. Biasanya
permintaan sumbangan ini diikuti dengan tema-tema tertentu, misalnya bencana
alam, Prita, Bilqis, panti jompo, dan lain-lain. Mereka terlihat cukup
terpercaya dengan menggunakan seragam jaket berwarna tertentu, berpenampilan
seperti mahasiswa. Belakangan mereka mengaku dari LSM tertentu, namun yang
menjadi permasalahan adalah tidak ada laporan akuntabilitas atas uang sumbangan
yang diterima.
7. Tampil beda dengan membawa sebuah karton yang bertuliskan mereka membutuhkan
biaya sekolah atau biaya hidup.
Saat ini semakin gencar dilakukan kampanye untuk tidak memberikan uang kepada
pengemis, (termasuk dalam bentuk peraturan dan fatwa haram) dan juga
pengungkapan berbagai fakta mengenai kekayaan pengemis Masalahnya adalah tidak
memberikan uang kepada pengemis ternyata tidak membuat orang berhenti menjadi
pengemis. Mereka malah melakukan drama-drama yang lebih menyayat hati, seperti
membawa bayi yang masih berumur beberapa minggu, berpanas-panasan dan
berhujan-hujan dengan bayinya, menggeserkan badannya di antara roda-roda mobil.
Pemerintah daerah pada dasarnya dengan mudah dapat membasmi pengemis. Lokasi
operasi pengemis mudah diketahui. Mereka biasanya beroperasi di jalan-jalan
macet, termasuk di perempatan jalan. Pengemis juga mudah ditemukan di berbagai
jembatan penyeberangan. Usaha untuk menangkap pengemis juga telah dilakukan
tapi kemudian menjadi tayangan yang menyentuh rasa kemanusiaan kita, termasuk
pembelaan dari LBH Jakarta yang menyatakan penangkapan pengemis merupakan
tindakan kriminal karena Pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan kerja.
Akhirnya Pemerintah serba salah dan lebih memilih untuk menghukum orang-orang
yang memberikan uangnya kepada pengemis dan masalah pengemis tidak pernah
terselesaikan secara tuntas.
2. Pengamen dan Anak Jalanan
Pengamen adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan cara bernyanyi
atau memainkan alat musik di muka umum dengan tujuan menarik perhatian orang
lain dan mendapatkan imbalan uang atas apa yang mereka lakukan. Kehadiran
pengamen kadang kala sangat mengganggu kenyamanan apalgi banyak dari mereka
yang memaksa untuk diberi imbalan, ada juga yang menolak jika diberi sejumlah
uang yang nilainya terlalu kecil misalnya Rp.100,- dan memunta jumlah yang
lebih besar.
Di Indonesia, keberadaan anak jalanan muncul sekitar tahun 1970-an dimulai
Jakarta, Bandung dan Jogja kemudian disususl dengan kota-kota lain yaitu
Malang, Surabaya dan Semarang. Beragam pandangan tentang definisi maupun
istilah-istilah dari Anak Jalanan
mulai muncul . menurut hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Badan
Pusat Statistik Republik Indonesia tahun 1998 memperlihatkan bahwa anak jalanan
secara nasional berjumlah sekitar 2,8 juta anak. Dua tahun kemudian, tahun
2000, angka tersebut mengalami kenaikan sekitar 5,4%, sehingga jumlahnya
menjadi 3,1 juta anak. Pada tahun yang sama, anak yang tergolong rawan menjadi
anak jalanan berjumlah 10,3 juta anak atau 17, 6% dari populasi anak di
Indonesia, yaitu 58,7 juta anak (Soewignyo, 2002).
4. Penyebab Kemiskinan
Tidak sulit mencari faktor-faktor penyebab kemiskinan, tetapi dari
faktor-faktor tersebut sangat sulit memastikan mana yang merupakan penyebab
sebenarnya serta mana yang berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap
perubahan kemiskinan.
• Tingkat dan laju pertumbuhan output
• Tingkat upah neto
• Distribusi pendapatan
• Kesempatan kerja
• Tingkat inflasi
• Pajak dan subsidi
• Investasi
• Alokasi serta kualitas SDA
• Ketersediaan fasilitas umum
• Penggunaan teknologi
• Tingkat dan jenis pendidikan
• Kondisi fisik dan alam
• Politik
• Bencana alam
• Peperangan
Penyebab kemiskinan menurut Kuncoro sebagai berikut :
1. Secara makro, kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan
sumber daya yang menimbulkan distribusi pendapatan penduduk miskin hanya
memiliki sumber daya dalam jumlah yang terbatas dan kualitasnya rendah. Dari
hasil mereka bekerja
2. kemiskinan muncul akibat perbedaan kualitas sumber daya manusia karena
kualitas sumber daya manusia yang rendah berarti produktivitas juga rendah,
upahnyapun rendah
3. kemiskinan muncul sebab perbedaan akses dan modal. Sendalam ismawan,
mengutarakan bahwa penyebab kemiskinan dan keterbelakangan adalah persoalan
aksesibilitas. Akibat keterbatasan dan ketertiadaan akses manusia mempunyai
keterbatasan (bahkan tidak ada) pilihan untuk mengembangkan hidupnya, kecuali
menjalankan apa terpaksa saat ini yang dapat dilakukan (bukan apa yang
seharusnya dilakukan).Dengan demikian manusia mempunyai keterbatasan dalam
melakukan pilihan, akibatnya potensi manusia untuk mengembangkan hidupnya
menjadi terhambat.
4. Kemiskinan karna seseorang malas berusaha untuk dirinya sendiri dikarenakan
pergaulan yang membawa mereka menjadi malas sekolah, ataupun belajar.
5. Kemiskinan di karenakan bencana alam seperti banjir bandang dan tanah
longsor atau kebakaran yang menghabiskan semua harta benda mereka.
Kemisikinan boleh berlaku atas kekurangan individu dan juga atas masalah
sosio-ekonomi dalam sesuatu masyarakat. Sehubungan itu, sebab musabab
kemisikinan boleh dilihat dari dua dimensi iaitu dimensi individu dan juga
dimensi masyarakat.
4. Dampak Kemiskinan
a. Dampak Kemiskinan Dimensi individu
Kekurangan individu yang tertentu boleh mencetuskan kemiskinan. Kelemahan
individu ini biasanya kelemahan yang ketara dan boleh menyebabkan seseorang itu
miskin, walaupun dia berada dalam suatu masyarakat yang penuh dengan peluang
rezeki. Kelemahan individu ini adalah seperti berikut:
• Tabiat Berjudi
Tabiat berjudi adalah satu amalan yang menyebabkan sesorang itu miskin. Ini
adalah kerana orang yang berjudi, khususnya mereka yang ketagihan berjudi, akan
banyak kehilangan harta dalam aktiviti berjudi, dan mereka seringnya hilang
tumpuan dalam pekerjaan kerana leka dalam perjudian.
• Ketagihan Dadah
Orang yang ketagihan dadah sukar untuk melaksanakan suatu pekerjaan kerana
badan mereka lemah. Mereka juga akan banyak kehilangan harta dalam membeli
dadah. Kemisikinan yang dihadapi oleh mereka adalah berpanjangan kerana
ketagihan dadah adalah sesuatu yang amat sukar untuk dilepaskan.
• Sakit Badan
• Masalah Personaliti
Pada umumnya, personaliti bermasalah yang menyebabkan kemisikinan ialah sikap
malas. Sikap malas itu dicerminkan dalam tingkah laku seperti suka berkhayal,
suka beromong kosong, dan juga “elak kerja”. Orang yang malas adalah kekurangan
produktiviti dan mereka akan hilang banyak peluang untuk mencari rezeki.
b. Dimensi Masyarakat
Dari dimensi ini, kemisikinan merupakan sesuatu yang terhasil daripada masalah
sosio-ekonomi yang wujud dalam sesuatu masyarakat dan bukanlah sesuatu yang
diakibatkan oleh kelemahan individu itu sendiri. Antara sebab musabab
kemisikinan yang berhubung dengan masalah masyarakat adalah seperti berikut:
• Konflik
konflik seperti peperangan, rusuhan dan sebagainya akan menyebabkan kegiatan
ekonomi terbantut dan ia juga membinasakan infrastruktur yang penting untuk
menjana kekayaan. Semua ini akan menyebabkan kemisikinan berlaku.
• Ketidakadilan Sosial
Menurut teori Marxisme, dalam masyarakat yang mengamalkan ekonomi pasaran
bebas, kemisikinan adalah sesuatu yang tidak dapat dielakkan. Dalam masyarakat
ini, harta cenderung untuk bertumpu kepada golongan yang terkaya, manakala
orang yang misikin cenderung menjadi lebih miskin. Ini adalah kerana dalam
pasaran bebas, komoditi itu dijualkan kepada mereka yang mampu menawarkan harga
yang lebih tinggi. Prinsip ini menyebabkan faktor pengeluargan seperti tanah,
cenderung dimiliki oleh golongan terkaya, kerana mereka mempunyai kuasa
pembelian yang lebih tinggi. Pemilikikan faktor pengeluaran ini akan
menyebabkan orang terkaya ini menjadi lebih kaya, dan mereka akan membeli lebih
banyak faktor pengeluaran di pasaran bebas. Proses ini akan berterusan,
sehingga golongan terkaya ini memonopoli segala faktor pengeluaran, dan
menyebabkan orang lain dalam masyarakat miskin kerana tidak memiliki faktor
pengeluaran. Tetapi teori ekonomi marxisme sudah dibukti salah oleh ramai ahli
ekonomi. Semua negara yang telah cuba mengikuti cadangan Karl Marx gagal
mengurangi kemiskinan. Kini hampir semua ahli ekonomi dan ahli sejarah ekonomi
cadangkan ekonomi bebas untuk mengurangi kemiskinan.
Dampak lain kemiskinan suatu bangsa adalah banyaknya pengangguran
a. Pengangguran adalah seseorang yang tergolong angkatan kerja dan ingin
mendapat pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya. Masalah pengangguran yang
menyebabkan tingkat pendapatan nasional dan tingkat kemakmuran masyarakat.
b. Gelandangan adalah orang-orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan
norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidak mempunyai
tempat tinggal dan pekerjaan yang tetap di wilayah tertentu dan hidup
mengembara di tempat umum;
c. Pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan
meminta-minta di muka umum dengan pelbagai cara dan alasan untuk mengharapkan
belas kasihan dari orang lain;
5. Alasan mengapa harus turun ke jalan
1. Aspek ekonomi
2. Aspek sejarah dan budaya
3. Aspek lingkungan
4. Aspek keluarga
5. Aspek pendidikan
Pada dasarnya masalah pengemis, pengamen dan gelandangan sangat terkait dengan
faktor kemiskinan. Selain itu ada begitu banyak faktor yang menjadikan mereka
sebagai pekerja jalanan yang keras dan beresiko, seperti membantu ekonomi
keluarga, menjadi korban penculikan, dipaksa bekerja orang lain, dan lain
sebagainya.
6. Cara mengurangi dan menghilangkan kemiskinan dan para pekerja jalanan
– Kebijakan anti kemiskinan
Untuk menghilangkan atau mengurangi kemiskinan di tanah air diperlukan suatu
strategi dan bentuk intervensi yang tepat, dalam arti cost effectiveness-nya
tinggi.
– Ada tiga pilar utama strategi pengurangan kemiskinan, yakni :
pertumuhan ekonomi yang berkelanjutan dan yang prokemiskinan
Pemerintahan yang baik (good governance),Pembangunan sosial. Untuk mendukung
strategi tersebut diperlukan intervensi-intervensi pemerintah yang sesuai
dengan sasaran atau tujuan yang bila di bagi menurut waktu yaitu :
Intervensi jangka pendek, terutama pembangunan sektor pertanian dan ekonomi
pedesaan, Intervensi jangka menengah dan panjang, Pembangunan sektor swasta,
Kerjasama regional, APBN dan administrasi, Desentralisasi
Pendidikan dan Kesehatan, Penyediaan air bersih dan Pembangunan perkotaan. Cara
mengatasi kemiskinan
• Usaha Individu
Seseorang boleh berusaha untuk menyelesaikan masalah kemiskinan yang
dihadapinya oleh dirinya. Pada lazimnya seseorang itu dapat mengatasi
kemisikinan dirinya menerusi pendidikan.
• Penyedekahan
Penyedekahan merupakan satu cara yang baik untuk membantu golongan termiskin
dalam masyarakat. Tetapi ia tidak dapat mengatasi masalah kemisikinan secara
keseluruhan.
• Pembangunan Ekonomi
Pembangunan ekonomi bermaksud penambahan barangan dan perkhidmatan yang
ditawarkan dalam pasaran di sesebuah negara. Pembangunan ekonomi merupakan cara
yang paling berkesan untuk mengatasi masalah kemiskinan. Tetapi ia harus
disertai dengan pengagihan pendapatan yang adil dalam masyarakat. Bank Dunia
dan Tabung Kewangan Antarabangsa cadangkan pembangunan ekonomi sebagai faktor
yang paling penting dalam mengatasi kemiskinan.
• Pembangunan Masyarakat
Pasaran bebas Milton Friedman dan lain-lain mencadangkan pasaran bebas untuk
bagi pembangunan ekonomi dan mengatasi kemiskinan. Jika ada pembangunan ekonomi
ada pula pengurangan kemiskinan.
Dampak kemiskinan di Indonesia memunculkan berbagai penyakit pada kelompok
risiko tinggi seperti ibu hamil, ibu menyusui, bayi, balita, dan lanjut usia.
“Kita mengakui sejak krisis ekonomi tahun 1997 jumlah penduduk miskin di
Indonesia meningkat”. kemiskinan yang terjadi di Indonesia menyebabkan cakupan
gizi rendah, pemeliharaan kesehatan kurang, lingkungan buruk, dan biaya untuk
berobat tidak ada dan biaya perawatan untuk persalinan ibu melahirkan tidak ada
bantuan dari pemerintah. Akibat terkena penyakit, katanya pada lokakarya
“Pengentasan Kemiskinan Melalui Pengembangan Industri Agromedicine Terpadu”,
menyebabkan produktivitas rendah, penghasilan rendah dan pengeluaran bertambah.
Kemiskinan memang tidak pernah berhenti dan tidak bosan menghancurkan cita-cita
masyarakat Indonesia khususnya para generasi muda. Kemiskinan sudah banyak
“membutakan” segala aspek seperti pendidikan. Sebagian dari penduduk Indonesia
lantaran keterbatasan ekonomi yang tidak mendukung, oleh contoh kecil yang
terjadi di lapangan banyak anak yang putus sekolah karena menunggak SPP, siswa
SD yang nekat bunuh diri karena malu sering ditagih oleh pihak sekolah, anak di
bawah umur bekerja keras dengan tujuan memberi sesuap nasi untuk keluarganya,
banyak nya pengamen dan pengemis di ibu kota karna semua ini. Bagaimana
Indonesia mau maju kalau generasi muda yang seharusnya sekolah sekarang ikut
merasakan korban faktor kemiskinan.
Masalah Pengangguran di Provinsi Kalimantan Barat
Tingginya angka pengangguran di Provinsi Kalimantan
Barat menjadi salah satu faktor utama rendahnya taraf hidup para penduduk di
Provinsi Kalimantan barat. Namun yang menjadi manifestasi utama sekaligus
faktor penyebab rendahnya taraf hidup karena Terbatasnya penyerapan sumber
daya, termasuk sumber daya manusia. Pemanfaatan sumber daya yang rendah
dikarenakan buruknya efisiensi dan efektivitas dari penggunaan sumber daya,
baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia.
Dua penyebab utama dari rendahnya pemanfaatan sumber
daya manusia adalah karena tingkat pengangguran penuh dan tingkat pengangguran
terselubung yang terlalu tinggi dan terus melonjak. Jika hal ini di biarkan
terus-menerus maka akan sangat besar kemungkinan angka pengangguran di Provinsi
Kalimantan Barat akan semangkin tinggi. Hal tersebut akan berakibat buruk, dan
dapat menyebabkan terjadinya masalah sosial yang semangkin besar di masyarakat,
seperti kemiskinan, kriminalitas dan lain-lain.
Ini bisa di lihat melalui diagram penelitian analisis
tingkat efisiensi sektoral dan siklus bisnis kalimantan barat di bawah ini.
Peta perekonomian provinsi Kalimantan Barat sejak
tahun 1993 hingga saat ini (data BPS,
2008) tidak berubah secara signifikan. Perekonomian
provinsi ini masih didominasi oleh 3 sektor utama yakni sektor pertanian,
sektor perdagangan, dan sektor industri pengolahan.
Sektor pertanian selalu menjadi pemegang pangsa
perekonomian terbesar di Kalbar baik
sebelum krisis 1997 ataupun pasca krisis ekonomi 1997.
Pergeseran pangsa terjadi pada sektor ekonomi dominan lainnya yakni sektor
perdagangan yang saat ini menduduki urutan kedua mendominasi perekonomian
Kalbar setelah sektor pertanian. Sementara sektor industri pengolahan yang pada
tahun 90-an memiliki pangsa nomor dua terbesar terus menyusut pangsanya hingga
saat ini berada di posisi ketiga. Perubahan konstelasi ekonomi Kalbar
sebetulnya dimulai pada tahun 1998 di mana booming industri perkayuaan sejak
tahun 1967 mulai mengalami titik jenuhnya sejalan dengan sumber daya alam hutan
yang semakin terbatas. Kondisi ini mengakibatkan pagsa sektor industri
pengolahan di Kalbar menyusut dari 25% (rata-rata tahun 1993-1997) menjadi 21%
(rata-rata tahun 1998-2008). Walaupun industri pengoahan kayu masih memberikan
kontribusi terhadap perekonomian Kalbar, namun dominasinya telah tergeserkan
oleh industri pengolahan karet.
2.5 Dampak Pengangguran Bagi Provinsi Kalimantan Barat
Pengangguran merupakan masalah pokok dalam suatu
masalah pokok dalam suatu masyarakat modern. Jika tingkat pengangguran tinggi,
sumberdaya menjadi terbuang percuma dan tingkat pendapatan masyarakat akan
merosot. Situasi ini menimbulkan kelesuan ekonomi yang berpengaruh pada emosi masyarakat
dan dalam kehidupan keluarga sehari-hari. Adapun dampak pengangguran terhadap
kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat adalah sebagai berikut. Dilihat dari
segi ekonomi, pengangguran memiliki dampak sebagai berikut :
1. Pengangguran menyebabkan turunnya daya beli
masyarakat, sehingga akan mengakibatkan kelesuan dalam berusaha.
2. Pengangguran akan menghambat investasi, karena
menurunnya jumlah tabungan masyarakat.
Dari segi sosial, dampak pengangguran adalah sebagai
berikut :
1. Perasaan minder ( rendah diri ),
2. Meningkatnya angka kriminalitas,
3. Meningkatnya angka kemiskinan,
4. Munculnya pengamen, pengemis, anak jalanan, dan
5. Tingginya anak-anak yang putus sekolah.
2.6 Data Pengangguran di Provinsi Kalimantan
Barat
Jumlah pengangguran di Provinsi Kalimantan Barat pada
tahun 2010 diperkirakan mencapai ± 101,6 ribu jiwa dari total jumlah penduduk
yang mencapai ±4.393.239 jiwa. Menurut data BPS ( tahun 2010 ), tingkat
pengangguran terbuka ( TPT ) tertinggi terjadi di kota Singkawang sebesar 8,05
persen, di susul Kabupaten Pontianak 7,80 persen, Kota Pontianak 7,79 persen.
Sementara tingkat pengangguran terbuka ( TPT ) terendah di Kabupaten Melawi
sebesar 1,30 persen dan di susul Kapuas Hulu 2,25 persen. Sementara dari sisi
jumlah pengangguran, terbesar di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya
masing-masing 20,3 ribu jiwa dan 14,7 ribu jiwa, sedangkan paling sedikit di
Kabupaten Melawi dan Sekadau, masing-masing 1,27 ribu jiwa dan 2,24 ribu jiwa,
Sumber: Badan Statistik Provinsi Kalimantan Barat.
Menurut hasil survei angkatan kerja nasional (
Sakernas ), tingkat partisipasi angkatan kerja ( TPAK )di Provinsi Kalimantan
Barat sebesar 73,17 persen atau sebanyak 2,2 juta jiwa. Tingkat partisipasi
angkatan kerja (TPAK ) terbesar di kabupaten Kapuas hulu sebesar 79,82 persen
dan melawi 78,95 persen. Sedangkan tingkat partisipasi angkatan kerja ( TPAK )
terendah di Kota Pontiank sebesar 65,61 persen dan di Kota Singkawang 66,61
persen.
Sementara untuk persentase penyerapan tenega kerja
berada di tiga sector, yakni pertanian 60,43 persen; perindustrian 12,39
persen; dan pelayanan 27,18 persen. Menurut data sektor pertanian yang paling
tinggi menyerap tenaga kerja, yakni di Kabupaten Landak sebesar 82,33 persen,
terendah di Kota Pontinak 5,44 persen. Untuk jumlah penduduk Provinsi
Kalimantan Barat yabg berkerja di sektor formal 27,55 persen, kemudian informal
72,45 persen, sumber BPS Provinsi Kalimantan Barat.
2.7 Cara Mengatasi Pengangguran di Provinsi Kalimanta
Barat
Pengangguran ada bermacam-macam, untuk mengatasinya
harus disesuaikan dengan jenis pengangguran yang terjadi, yaitu sebagai berikut
:
1. Pengangguran struktural
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini, cara yang di
gunakan adalah :
§ Peningkatan mobilitas modal dan tenaga kerja.
§ Segera memindahkan tenaga kerja dari sektor yang
kelebihan ke tempat dan sektor ekonomi yang kekeurangan.
§ Mengadakan pelatihan tenaga kerja untuk mengisi
lowongan kerja yang kosong .
§ Segera mendirikan industri padat karya di wilayah yang
mengalami pengangguran.
§ Menarik investor sebanyak-banyaknya.
2. Pengangguran friksional
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini, cara yang di
gunakan adalah :
§ Perluasan kesempatan kerja dengan cara mendirikan
industri-industri baru, terutama yang bersifat padat karya.
§ Deregulasi dan Debirokratisasi di berbagai bidang
industri untuk merangsang timbulnya investasi baru.
§ Menggalakkan pengembangan seckor informal, seperti
home industri.
§ Menggalakan program transmigrasi untuk menyerap tenaga
kerja di sektor agraris dan sektor formal lainnya.
§ Pembukaan proyek-proyek umum oleh pemerintah, seperti
pembangunan jembatan, jalan raya, PLTU, PLTA, dan lain-lain sehingga bias
menyerap tenaga kerja secara langsung maupun utuk merangsang insvestasi baru
dari kalangan swasta.
3. Pengangguran Musiman
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini, cara yang di
gunakan adalah :
Pemberian informasi yang cepat jika ada lowongan kerja
di sektor lain.
§ Melakukan pelatihan di bidang keterampilan lain untuk
memanfaatkan waktu ketika menunggu musim tertentu.
4. Pengangguran Siklus
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini, cara yang di
gunakan adalah :
§ Mengarahkan permintaan masyarakat terhadap barang dan
jasa.
§ Meningkatkan daya beli masyarakat
5. Pengangguran Konjungtural
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini, cara yang di gunakan
adalah :
§ Meningkatkan daya beli masyarakat sehingga pasar
menjadi ramai dan akan menambah jumlah permintaan.
§ Mengatur bunga bank agar tidak terlalu tinggi sehingga
investor lebih suka menginvestasikan uangnya.
6. Pengangguran Teknologi
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini, cara yang di
gunakan adalah :
§ Mempersiapkan masyarakat untuk untuk dapat mengikuti
perkembangan teknologi dengan cara memasukkan materikurikulum pelatihan
teknologi di sekolah.
§ Pengenalan teknologi sejak dini
§ Pelatihan tenaga pendidik untuk penguasaan teknologi.
Secara umum pengangguran dapat di atasi dengan :
1. Memperluas kesempatan kerja yang dapat di lakukan
dengang dua cara, yaitu sebagI berikut :
§ Pengembangan industri, truta jenis industri yang
bersifat padat karya ( yang dapat menyerap relatif banyak tenaga kerja ).
§ Melalui berbagai proyek perkerjaan umum, seperti
pembuatan jalan, saluran air dan jembatan.
2. Menurunkan jumlah angkatan kerja
Ada beberapa cara yang dapat di lakukan untuk
menurunkan jumlah agkatan kerja, misalnya dengan program keluarga berencana,
program wajib belajar dan pembatasan usia kerja minimum.Meningkatkan kualitas
kerja dari tenaga kerja yang ada, sehingga mampu menyesuaikan diri dengan
tututan keadaan. Banyak cara yang bias di lakukan, seperti melanjutkan sekolah
ke jenjang yang lebih tinggi, kursus, balai latihan kerja, mengikuti seminar
dan yang lainnya.
sumber :